Minggu, 04 November 2012

JUMPA YESUS DIUBAH

Sehari sebelum Rm.Heribertus Supriyadi O.Carm menjenguk ibunda yang sakit diabetes di kampung dekat hutan Banyuwangi, Romo masih memimpin rekoleksi Komunitas Kerahiman Ilahi (KI) di ruang S.Christoforus pada hari Sabtu 3/11 dari jam 08.00 sampai 12.00 wib. Komunitas K.I. dipimpin oleh M.V.Fenny K( 0811-866552) dan Liana Albert. Komunitas ini diharapkan menyadari K.I. untuk mau menerima, memiliki, mewartakan dan saling berbagi kepada sesama. Doa adalah dialog, bukan monolog. Konsep doa adalah komunikasi dengan Tuhan. Yesuslah yang mulai komunikasi. Jangan jadikan Tuhan hanya jadi pendengar saja untuk permohonan kita yang mengemis itu. Apalagi mau jadi preman dengan ancaman:”Tuhan, kalau doa-doaku tidak dikabulkan, maka aku akan berhenti dari gereja.” Bacalah Kitab Suci untuk mencari kehendak Tuhan. Betapa hebatnya kehendak Allah itu .Firman Allah itu adalah pelita, benteng, pisau bermata dua dan pedang Roh dan adalah juga kehendak Allah. “Batangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah IbuKu,”(Mrk 3:35). “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya,”Luk 11:28). Kitab Suci itu sendiri diilhamkan oleh Roh Kudus. Perikop yang dijadikan tema Rekoleksi adalah Injil Markus 10:46-52.  

Ciri Bartimeus Lama.
Seorang pengemis yang buta,duduk di tepi jalan puus asa/ tak melihat masa depan, pernah mendengar tentang Yesus dan mengenakan jubahnya. Ia terasing dari masyarakat. Ia tidak ambil baian dengan orng yang berbondong-bondong mengikuti Yesus. Ia tidak berdiri, seperti Maria di bawah kaki salib:tegar dalam hidup.Mengenakan jubah tanda identitas diri.(bandingkan dengan anak yang hilang yang diberi salinan jubah baru dan Yesus yang menanggalkan jubah dengan kain lenan wakatu basuih kaki murid-murid).  

Proses diubah.
Allah menunjukkan belas kasihan, setelah dengar seruannya:”Yesus, Putra Daud kasihanilah kami.” Yesus anak Daud, merujuk Ia adalah keturunan Raja, dikaitkan dengan janji Allah:”Mesias (Kristus) yang menyelamatkan umat Tuhan.” Seruan yang kedua hilang, tinggal:Putra Daud, kasihanilah aku.”. Yesus hilang dari kemanusiaanNya dan menjadi Yang Ilahi. Inilah seruan spesial yang telah mengalami pergeseran. Untuk menjemput belas kasih Tuhan, butuh keberanian, keyakinan dan kerja keras. Kerahiman Ilahi harus diambil dari tangan Yesus, kalau tidak kesempatan akan diambil oleh orang lain. Seruan Bartimeus membuat langkah Yesus terhenti, dan rahmat Allah dikucurkan. Ucapan Yesus:”Panggillah dia,” menghimbau kita untuk mengantar orang lain pada Yesus.Jangan kerahiman Ilahi disimpan untuk diri sendiri.

Bartimeus baru.
Orang yang mengalami K.I. adalah orang yang mau berlari dan mau mengejar cita-cita/punya harapan. Dari posisi dukuk, ia berdiri, dikuatkan dari kelemahan. Menanggalkan jubah baru dan dapatkan sosok baru yang punya harga diri. Peran Yesus yang adalah rabuni(guru) adalah agar orang menjadi sadar akan jati dirinya sebagai gambaran citra Allah.(Tomas Samaria)

Selamat Tugas di Tempat Yang Baru Rm Agung

Pada mingu kedua bulan Oktober , ketika saya menumpang kendaraan Dhanny menuju rumah, saya diberitahu bahwa Rm Agung Prasetijo O.Carm akan pindah dan dapat tugas baru. Konon selama akhir misa tanggal 14 dan 15 bulan ini, beliau telah pamitan dengan umat sambil berdiri di gerbang Gereja MBK. Sedikit hiburan, tahun depan dalam cuti, dia akan memberi retret mengenai S.Teresa de Jesus di Karmel OCD Lembang. Namun ketika saya menyetel Oase Rohani Katolik Sabtu 27/10 , saya terkejut bahwa Rm Agung akan memberi renungan. Apakah ini hanya rekaman bersama presenter Melania Imeng. Aku senang mengikutinya. Bencana dan musibah. Jika ada tsunami, kebakaran, banjir, gempa bumi, oleh orang-orang korbannya dianggap banyak dosa. Orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus, darah mereka dicampur dengan darah hewan korban mereka.”Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada semua dosa orang Galilea, karena mereka mengalami nasib itu? Atau sangkamu ke delapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannnya dari orang-orang Yerusalem?” Yesus menegaskan:”Tidak!.Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian!.”Kalau kita tidak berjalan ke jalan kebenaran, maka kita akan mati. Jiwanya mati, tidak mengenal keselamatan. Keselamatan diperoleh bila seorang bertobat dan percya Tuhan Yesus. Jiwa dan Roh kita selamat, jika kita Bersatu dengan Allah. Tubuh Mistik Kristus. Yesus yang telah turun dari surga ke bumi, telah banyak mengalami penderitaan, sengsara, disalibkan, wafat dan dimakamkan dan pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati. Orang percaya yang meninggal dalam Kristus, juga akan dibangkitkan. Asal kita teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertambah di dalam segala hal kea rah Dia, yaitu Kristus yang adalah Kepala Tubuh Mistik. Imeng bertanya:”Bagaimana kasih bisa bertumbuh dalam hati kita?:. Romo menjawab:”S.Teresa de Jesus mengajar kita untuk selalu merefleksikan(merenungkan) kebaikan Allah. Dengan berdoa vokal seperti Bapa Kami atau Salam Maria atau dengan doa batin sambil mendaraskan Yesus, Yesus, Yesus dalam irama Amazing Grerdoalah pakai cinta. Tidak cukup dengan mengurangi kata-kata saja. Sehingga kasih bisa dikobarkan.” “Berdoa dan merenungkan Kitab Suci adalah satu. Apalagi dalam bulan rosario ini. Sambil berdoa Rosario kita merenungkan empat Peristiwa Yesus seperti Peristiwa Gembira, Mulia, Sedih dan Terang.Hati kita akan dipenuhi kasih kepada Tuhan dan sesama sambil merenungkan peristiwa Yesus.” “Keselamatan bukan karena hasil usaha manusia tetapi diperoleh dari Tuhan Yesus yang adalah Kepala Tubuh Mistik”. “Kepada kita masing-masing telah dianugerahi kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus,”(Ef 4:7). Heboh mengenai kematian tidak ada lagi. Cara orang meninggal pun tidak ada masalah.Diakhir siaran Romo pamit karena ditarik Ordo Karmel ke tempat baru. Semoa kita bisa menikmati romo on air lagi.(Tomas Samaria)

Kamis, 02 Desember 2010

Menabur Benih

Keluarga adalah sekolah penyelamatan, karena keluarga merupakan ecclesiola (Gereja Mini), pembawa misi penyelamatan. Sebagai sekolah penyelamatan, keluarga adalah tempat pendidikan. Pendidikan sering disempitkan menjadi searti dengan pengajaran di sekolah. Padahal pengajaran di sekolah hanyalah bagian dari pendidikan.
Pendidikan adalah usaha mendewasakan seseorang dengan cara menanamkan dan memberikan kondisi pertumbuhan pada nilai-nilai tertentu. Istilah yang dipakai dalam Injil adalah ‘menaburkan benih – menciptakan kondisi tanah yang subur, agar menghasilkan buah yang memuaskan (bdk.Mat.13,18-23).
Konkritnya dalam hal pendidikan anak, para orang tua mempunyai kewajiban untuk menaburkan nilai-nilai kristiani, menciptakan kondisi budi dan hati si anak, agar mengerti dan memahami, serta memberikan spirit untuk menghayatinya. Dengan demikian nilai-nilai kristiani tersebut tidak hanya menjadi pengetahuan bagi si anak, tetapi juga menjadi prinsip (menyangkut keyakinan hati) dalam hidup sehari-hari.
Jika kita berharap untuk menuai gandum, kita sendiri harus mau menaburkan benih gandum. Bagaimana mungkin orang tua mengharapkan buah gandum dari si anak, jika benih yang ditaburkan bukan benih gandum, karena orang tua menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada pembantu rumah tangga, yang karena keterbatasan pendidikan dan waktunya, hanya sempat menaburkan benih ilalang.

Jumat, 28 Mei 2010

TANDA

(Bahan Khotbah Pert. TOC. Minggu, 28 Februari 2010)

Pada suatu hari sepasang suami istri berjalan-jalan di sepanjang jalanan menikmati suasana berduaan di senja hari. Untuk sesaat si suami memperlambat langkahnya, mengangkat wajahnya sedikit, dan tersenyum. Melihat reaksi sang suami si isteri bertanya, “Ada apa?”, dan ia menjawab, “saya mendapat sebuah tanda.” Ia menjelaskan bahwa di jalan yang sedang mereka lintasi baru saja dilalui oleh seseorang yang memiliki selera tinggi, buktinya bau asap rokok dari bahan tembakau yang terbaik masih bisa dibaui ketika kita lewat.

Lalu suami isteri itupun larut dalam pembicaraan tanda-tanda yang ada di dalam kehidupan setiap harinya. Ada tanda darurat permintaan tolong yang dipancarkan dari sinyal radio kapal laut atau SOS, atau tanda asap, morse. Namun jauh sebelum manusia membuat tanda-tanda itu alam sudah memiliki tanda-tanda misalnya jerit dan teriakan kera sebagai tanda musim kawin, gonggongan anjing sebagai tanda ada sesuatu di sekitarnya, nyanyian jangkrik yang sesuai dengan temperatur, tanda awan hitam dan kilat sebagai pratanda hujan yang akan turun.

Tanda perubahan Yesus tentu juga punya makna bagi kita, yakni penampakan kemuliaanNya. Yesus memang tidak menampakkan kemuliaan-Nya bagi kita seperti kepada Petrus Yakobus dan Yohanes. Akan tetapi itu bukan berarti kita kurang mendapat rahmat daripada mereka. Kita memang tidak melihat kemuliaan Tuhan -tetapi sama seperti mereka- kita juga mendengar suara Tuhan. Suara itulah yang meneguhkan Petrus dan yang seharusnya meneguhkan kita dalam perjalanan hidup kita yang diibaratkan laksana “pendakian gunung kehidupan” di dunia ini.

Kebahagiaan tidak terletak pada penglihatan, tetapi pada mendengarkan. Apabila kita mendengarkan Dia, kita juga akan mengalami perubahan dari dalam dan menjadi manusia baru. Mata kita akan menjadi lebih jelas untuk melihat kemuliaan Tuhan yang tersembunyi dalam dunia dan terendap di lubuk khalbu kita, tepatnya di relung-relung perjuangan hidup kita.

Perubahan wajah Yesus menjadi sebuah tanda yang begitu mengagumkan sampai-sampai menimbulkan rasa takut sehingga Petruspun bereaksi. Ia mengusulkan untuk mendirikan kemah. Tetapi Yesus terkesan mengabaikan usul Petrus ini. Kiranya orang mendirikan kemah bukan untuk menetap, tetapi hanya untuk tempat sementara karena berlibur atau kena bencana alam. Mereka hanya tinggal sementara di kemah. Apakah demikian pula halnya dengan Petrus? Bagaimana dengan kita? Apakah iman kita hanya sementara sifatnya? Tatkala mengalami kesulitan ingat Tuhan, tetapi saat bahagia lupa keluarga apalagi Tuhan!

Apa kiranya Injil pesan Injil ini bagi kita? Memandang kemuliaan Yesus berarti suatu pendakian gunung. Bukankah masa Prapaskah berarti masa kita “mendaki gunung” bersama Yesus? Prapaskah adalah pendakian menuju kemuliaan melalui pantang dan puasa sehingga pendengaran kita terhadap suara hati semakin jelas? Suara hati selalu mengatakan: “lakukan yang benar hindari yang jahat.” Setiap hari kita mendengarkan Injil baik dalam perayaan ibadat, misa, maupun yang diupayakan sendiri. Melalui pendengaran dalam terang iman kita bisa pula mendengar suara Allah yang tersembunyi di dalam “diamnya” anggota keluarga, teman yang tersakiti hatinya. Kitapun bisa mendengar jeritan suara hati yang membutuhkan teman bicara lewat “pintu yang dibanting keras”, “air mata yang mengalir dalam kesunyian”, “anak yang mengunci diri di kamar” dan sejenisnya... Inilah kiranya yang menjadi tanda-tanda dalam kehidupan kita yang harus kita dengarkan dan menggerakkan kita untuk menjawab tanda-tanda dengan sebuah sikap yang kasih yang nyata.

Senin, 07 Desember 2009

KONTEMPLASI CARA ST. IGNATIUS

Ini semacam doa fantasi, yang dianjurkan oleh St. Ignatius Loyola dalam Latihan Rohaninya, dan banyak digunakan oleh orang-orang suci. Bentuknya: mengambil suatu peristiwa dari kehidupan Kristus dan mementaskan itu dalam fantasi, ikut ambil bagian di situ, seakan-akan ini pertama kali terjadi dan anda ambil peranan di dalamnya. Cara yang paling baik untuk menjelaskan ini kepada anda itu mengajak anda melakukannya sendiri.
Untuk latihan ini kita dapat mengambil kutipan dari Injil Yoh 5:1-9.Bacalah kutipan Injil tersebut dengan tenang dan perlahan-lahan.Cobalah untuk memahami maknanya.Kalau perlu bacalah bacaan tersebut sekali lagi.
Sekarang tenangkanlah diri anda dengan melakukan salah satu latihan penyadaran.Misalnya dengan menarik nafas dalam-dalam, menahannya sejenak lalu menghembuskan nafas tersebut sambil menyerukan “nama Yesus atau Tuhan Yesus Kristus kasihanilah aku.” secara berulang-ulang. Cobalah menyadari keluar masuknya udara dalam hidung anda sampai anda memperoleh ketenangan.
Setelah itu cobalah untuk menggambarkan kolam yang disebut Betesda dalam bacaan tersebut. Lima serambi…kolamnya…keadaan sekitar…Ambillah waktu untuk membayangkan seluruh bangunan sehidup-hidupnya untuk mempersiapkan diri anda, dengan melihat tempatnya…Macam apa tempat itu? Bersih atau kotor? Luas atau sempit…? Perhatikanlah bangunannya…Bagaimana udaranya…Setelah panggung disiapkan, pentaskanlah seluruh adegan sehidup-hidupnya: lihatlah orang-orang di sekitar kolam…Berapa orang ada di sana…? Orang macam apa…? Bagaimana pakaiannya…? Mereka berbuat apa? Mereka mengidap penyakit apa…? Apa yang mereka katakan…Apa yang mereka perbuat…
Tidak cukup anda melihat peristiwa ini dipandang dari luar, seperti gambar film layar putih. Anda harus ikut main, Anda berbuat apa di situ…? Mengapa anda datang ke tempat ini?... Perasaan apa timbul, sewaktu anda melihat seluruh keadaan ini dan memperhatikan orang-orangnya…? Anda berbuat apa.. Berbicaralah danagan salah satu…Siapa?
Sekarang perhatikan orang sakit yang disebutkan dalam Injil…Di mana dia di antara orang banyak itu?...Bagaimana pakaiannya…Apa ada yang mendampinginya?...Coba dekatilah dia dan berbicaralah dengannya..Anda berbicara apa, atau bertanya apa kepadanya?...Apa jawabannya…Ambillah waktu untuk mendengar detil-detil sebanyak mungkin dari hidup dan pribadinya…Ia memberi kesan apa kepada Anda?...Perasaan apa yang timbul, selama anda berbicara dengannya?
Sedang anda berbicara dengannya dari sudut mata anda melihat Yesus masuk di tempat ini…Perhatikanlah semua gerak-gerik perbuatanNya…Tempat mana yang dituju? Bagaimana Ia bergerak, berjalan?...Apa perasaanNya kiranya?...
Ia sekarang mendekati anda dan orang sakit itu…Bagaimana sekarang perasaan anda?...Anda menyingkir ketika melihat Yesus ingin berbicara dengan orang sakit itu… Yesus berkata apa kepada orang itu? Apa jawaban si sakit? Ikutilah seluruh wawancara…lengkapilah pembicaraan singkat dari Injil itu…
Perhatikanlah khususnya pertanyaan Yesus:”Maukah engkau sembuh?”…Dengarkan sekarang perintah Yesus, kalau Ia menyuruh orang itu bangkit dan berjalan…reaksi pertama pada orang itu…Ia mencoba bangun…mukjijat terjadi! Perhatikanlah reaksi orang itu…tanggapan Yesus…reaksimu sendiri…
Sekarang Yesus berpaling kepada anda…Ia mengajak anda berbicara…Bertanya-tanyalah tentang mukjizat itu…
Apa ada penyakir yang anda derita?...Pada badan, hati, jiwa?...Bicarakan itu dengan Yesus…Yesus berkata apa kepada anda?...Dengarkanlah kata-kataNya: “Maukah engkau sembuh?” Apakah anda sungguh mau, kalau anda minta disembuhkan itu?...Anda sanggup menerima konsekuensi penyembuhan?...Sekarang anda sampai pada saat perahmatan…Apa anda percaya, bahwa Yesus kuasa untuk menyembuhkan anda dan memang bermaksud menyembuhkan anda?...Apa anda percaya, bahwa hal ini akan terjadi sebagai buah iman dari semua yang hadir di sini?...Sekarang terimalah sabda kuasa, kalau Ia mengucapkan kata-kata penyembuhan atas diri anda, atau meletakkan tangan pada anda?...Perasaan apa yang timbul…apa anda pasti, bahwa sabda yang anda dengar, akan menimbulkan akibat pada anda:bahkan sudah mulai berakibat sesuatu, meskipun anda tidak melihat sesuatu yang jelas pada saat ini … Sekarang anda diam sejenak berdoa tenang di dalam batin, dekat Yesus, bersama Dia…

Jangan kecewa, kalau usaha anda pada permulaan untuk melakukan kontemplasi semacam ini gagal dan belum memuaskan seperti yang anda harapkan. Nanti lama kelamaan anda akan berhasil.
Kontempalasi ini menimbulkan kesulitan untuk sementara orang. Mereka menganggap sulit untuk masuk dalam latihan, yang mereka anggap tidak riil, Mereka mengalami kesulitan dengan kisah seperti ini atau dengan kisah Yesus kanak-kanak, mereka kurang menyadari makna lambang yang amat mendalam artinya (ini tidak sama dengan tidak riil) pada kontemplasi-kontemplasi semacam ini. Mereka itu begitu terkekang oleh kenyataan sejarah, sehingga mereka tidak mempan menghadapi kenyataan misteri. Kenyataan itu baginya hanya ada pada sejarah, tidak pada mistik.
Kalau Fransisikus Asisi penuh mesra menurunkan Kristus dari salib, ia tentu tahu, bahwa Yesus tidak lagi meninggal dan tidak lagi tergantung di salib, bahwa penyaliban itu sudah sejarah masa lampau. Kalau Antonius Padua menantang anak Yesus dan menikmati kehadiranNya, Ia sang Pujangga Gereja tentu tahu, bahwa Yesus tidak lagi seorang anak kecil yang dapat digendong.Tetapi Santo-santo agung ini dan orang banyak lainnya yang melakukan komtemplasi secara ini, dibelakang gambaran dan fantasi yang mereka hayati, mengalami sesuatu amat dalam dan gaib pada hati mereka, dan mereka dipersatukan dengan Tuhan serta Kristus secara mendalam pula.
Demikian St. Teresia Avila menyatakan, bahwa renungan kesayangannya ialah hadir bersama Kristus yang sedang mengalami sakratul maut di Getsemani. Dan Ignatius Loyola mengajak orang yang retret untuk menjadi hamba kecil penuh cinta mengikuti Maria dan Yusuf dalam perjalanannya menuju Betlehem, melayani mereka dan berbicara dengan mereka dan mengambil manfaat dari kehidupan bersama mereka secara ini. Ia tidak begitu mementingkan ketelitian ilmu bumi: meskipun ia sendiri mengunjungi tempat-tempat suci dan dapat memberikan gambaran jelas tentang Betlehem dan Nazaret, namun ia mempersilahkan peserta retret untuk menemukan Betlehemnya sendiri, Nazaretnya sendiri. Ia juga tidak menghiraukan ketelitian sejarah dalam arti sekarang. Ia tidak akan dikejutkan oleh penemuan-penemuan-penemuan Formkritik dan pendapat-pendapat baru dalam penyelidikan Kitab Suci.
Kontemplasi ini harus dilakukan dengan sikap percaya. Tanpa sikap percaya tidak mungkin kita dapat mempraktekkan Kontemplasi Cara St. Ignatius.”Percaya dan kamu akan melihat serta mengalaminya sendiri.” Inilah semangat dan jiwa, yang harus kita bawa untuk melatih kontemplasi cara Ignatius ini. Apabila kita sudah biasa menggunakannya, kita akan mengalami sendiri, bahwa dengan menggunakan fantasi seperti anak kecil, kita mencapai kenyataan-kenyataan jauh melampaui fantasi, kenyataan misteri, kenyataan mistik.



Sumber : Anthony de Mello, SJ.,Sadhana
Kanisius 1980,hlm. 73-78

Minggu, 27 September 2009

MOHON PAMIT

Para saudara-saudari Karmelit Awam yang terkasih, sehubungan dengan berakhirnya masa tugas saya sebagai Delprov T.O.Carm., maka sejak tgl 11 September 2009 yang lalu saya tidak lagi menjabat sebagai Delegatus Provinsi Karmelit Awam Indonesia. Provinsial Ordo Karmel Indonesia telah memberhentikan saya dengan hormat dan mengangkat pengganti saya, yaitu : Rm. Martinus Gunawan Wibisono, O.Carm. sebagai Delegatus Provinsi masa bakti tahun 2009-2012.

Pilihan Rm. Gunawan merupakan pilihan yang tepat karena beliau bukan orang asing bagi kita.Banyak dari kita yang mengenal beliau sebagai seorang imam yang bersahaja, yang tidak banyak bicara tetapi kalau sudah berbicara membuat kita terpingkal-pikal karena perkataannya yang lucu. Beliau sebelumnya kita kenal sebagai Pastor Paroki Maria Bunda Karmel, Palangkaraya dan sekaligus menjabat sebagai Delegatus Komunitas “Splendor Carmeli”Palangkaraya. Sebagai delegatus komunitas beliau menaruh perhatian pada pembinaan Karmelit Awam, Palangkaraya. Mereka senang dengan pembinaan yang beliau berikan. Beliau juga rajin menghadiri pertemuan-pertemuan Karmelit Awam Indonesia. Baik itu pertemuan Dewan Provinsi maupun Rekonas. Itu berarti beliau mempunyai hati untuk Karmelit Awam dan akan perkembangan atau masa depan Karmelit Awam Indonesia.

Selama ini beliau telah mengikuti perkembangan dan permasalahan yang dihadapi oleh Karmelit Awam Indonesia serta memberikan masukkan untuk kemajuan Karmelit Awam Indonesia.Karena itu saya yakin beliau mampu melanjutkan dan menyempurnakan apa yang sudah kita lakukan selama ini. Saya yakin dibawah kepemimpinan beliau Karmelit Awam Indonesia akan mengalami perkembangan dan kemajuan. Baik dari segi kwantitas maupun kwalitas sehingga Karmelit Awam Indonesia bisa menjadi kelompok kerasulan awam yang cukup diperhitungkan dalam Gereja.

Namun beliau tidak dapat melakukannya sendiri. Karena itu saya mohon agar kita semua mendukung usaha beliau dan mau bekerjasama dengan beliau sehingga apa yang menjadi harapan kita bersama dapat kita wujudkan dengan baik.

Setelah tidak menjabat sebagai delegatus provinsi saya akan berkonsentrasi pada tugas yang selama ini memang sudah saya tangani, yaitu menjadi Formator (Pembina) para calon imam dan bruder dari aneka konggregasi di Postulat Stella Maris, Jl. Ontoseno 4, Malang. Kalau dulu saya hanya melayani secara part time (karena harus berbagi tugas menjadi Formator di Novisiat Karmel, Batu) maka sekarang saya melayani secara full time di Postulat Stella Maris, Malang. Doakan agar saya dapat melaksanakan tugas pelayanan yang dipercayakan kepada saya dengan baik dan setia.

Akhirnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas kerjasama yang baik selama ini. Saya bersyukur dapat mengenal, melayani dan bekerjasama dengan Anda. Saya mohon maaf bila ada tutur kata, sikap dan pelayanan saya yang tidak berkenan di hati Anda. Saya berharap Anda tetap kompak dan setia pada panggilan Anda sebagai Karmelit Awam. Selamat berjuang dengan semangat Nabi Elia : “Zelo Zelatus Sum Pro Domino Deo Exercituum.”(Aku berjuang segiat-giatnya demi Allah Balatentaraku). Tuhan memberkati Anda sekalian.


Malang, tgl 14 September 2009
Rm. T.B.Pantjaja Adji Wilasa, O.Carm.
Mantan Delprov T.O.Carm. (2006-2009)