Kamis, 02 Desember 2010

Menabur Benih

Keluarga adalah sekolah penyelamatan, karena keluarga merupakan ecclesiola (Gereja Mini), pembawa misi penyelamatan. Sebagai sekolah penyelamatan, keluarga adalah tempat pendidikan. Pendidikan sering disempitkan menjadi searti dengan pengajaran di sekolah. Padahal pengajaran di sekolah hanyalah bagian dari pendidikan.
Pendidikan adalah usaha mendewasakan seseorang dengan cara menanamkan dan memberikan kondisi pertumbuhan pada nilai-nilai tertentu. Istilah yang dipakai dalam Injil adalah ‘menaburkan benih – menciptakan kondisi tanah yang subur, agar menghasilkan buah yang memuaskan (bdk.Mat.13,18-23).
Konkritnya dalam hal pendidikan anak, para orang tua mempunyai kewajiban untuk menaburkan nilai-nilai kristiani, menciptakan kondisi budi dan hati si anak, agar mengerti dan memahami, serta memberikan spirit untuk menghayatinya. Dengan demikian nilai-nilai kristiani tersebut tidak hanya menjadi pengetahuan bagi si anak, tetapi juga menjadi prinsip (menyangkut keyakinan hati) dalam hidup sehari-hari.
Jika kita berharap untuk menuai gandum, kita sendiri harus mau menaburkan benih gandum. Bagaimana mungkin orang tua mengharapkan buah gandum dari si anak, jika benih yang ditaburkan bukan benih gandum, karena orang tua menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada pembantu rumah tangga, yang karena keterbatasan pendidikan dan waktunya, hanya sempat menaburkan benih ilalang.

Jumat, 28 Mei 2010

TANDA

(Bahan Khotbah Pert. TOC. Minggu, 28 Februari 2010)

Pada suatu hari sepasang suami istri berjalan-jalan di sepanjang jalanan menikmati suasana berduaan di senja hari. Untuk sesaat si suami memperlambat langkahnya, mengangkat wajahnya sedikit, dan tersenyum. Melihat reaksi sang suami si isteri bertanya, “Ada apa?”, dan ia menjawab, “saya mendapat sebuah tanda.” Ia menjelaskan bahwa di jalan yang sedang mereka lintasi baru saja dilalui oleh seseorang yang memiliki selera tinggi, buktinya bau asap rokok dari bahan tembakau yang terbaik masih bisa dibaui ketika kita lewat.

Lalu suami isteri itupun larut dalam pembicaraan tanda-tanda yang ada di dalam kehidupan setiap harinya. Ada tanda darurat permintaan tolong yang dipancarkan dari sinyal radio kapal laut atau SOS, atau tanda asap, morse. Namun jauh sebelum manusia membuat tanda-tanda itu alam sudah memiliki tanda-tanda misalnya jerit dan teriakan kera sebagai tanda musim kawin, gonggongan anjing sebagai tanda ada sesuatu di sekitarnya, nyanyian jangkrik yang sesuai dengan temperatur, tanda awan hitam dan kilat sebagai pratanda hujan yang akan turun.

Tanda perubahan Yesus tentu juga punya makna bagi kita, yakni penampakan kemuliaanNya. Yesus memang tidak menampakkan kemuliaan-Nya bagi kita seperti kepada Petrus Yakobus dan Yohanes. Akan tetapi itu bukan berarti kita kurang mendapat rahmat daripada mereka. Kita memang tidak melihat kemuliaan Tuhan -tetapi sama seperti mereka- kita juga mendengar suara Tuhan. Suara itulah yang meneguhkan Petrus dan yang seharusnya meneguhkan kita dalam perjalanan hidup kita yang diibaratkan laksana “pendakian gunung kehidupan” di dunia ini.

Kebahagiaan tidak terletak pada penglihatan, tetapi pada mendengarkan. Apabila kita mendengarkan Dia, kita juga akan mengalami perubahan dari dalam dan menjadi manusia baru. Mata kita akan menjadi lebih jelas untuk melihat kemuliaan Tuhan yang tersembunyi dalam dunia dan terendap di lubuk khalbu kita, tepatnya di relung-relung perjuangan hidup kita.

Perubahan wajah Yesus menjadi sebuah tanda yang begitu mengagumkan sampai-sampai menimbulkan rasa takut sehingga Petruspun bereaksi. Ia mengusulkan untuk mendirikan kemah. Tetapi Yesus terkesan mengabaikan usul Petrus ini. Kiranya orang mendirikan kemah bukan untuk menetap, tetapi hanya untuk tempat sementara karena berlibur atau kena bencana alam. Mereka hanya tinggal sementara di kemah. Apakah demikian pula halnya dengan Petrus? Bagaimana dengan kita? Apakah iman kita hanya sementara sifatnya? Tatkala mengalami kesulitan ingat Tuhan, tetapi saat bahagia lupa keluarga apalagi Tuhan!

Apa kiranya Injil pesan Injil ini bagi kita? Memandang kemuliaan Yesus berarti suatu pendakian gunung. Bukankah masa Prapaskah berarti masa kita “mendaki gunung” bersama Yesus? Prapaskah adalah pendakian menuju kemuliaan melalui pantang dan puasa sehingga pendengaran kita terhadap suara hati semakin jelas? Suara hati selalu mengatakan: “lakukan yang benar hindari yang jahat.” Setiap hari kita mendengarkan Injil baik dalam perayaan ibadat, misa, maupun yang diupayakan sendiri. Melalui pendengaran dalam terang iman kita bisa pula mendengar suara Allah yang tersembunyi di dalam “diamnya” anggota keluarga, teman yang tersakiti hatinya. Kitapun bisa mendengar jeritan suara hati yang membutuhkan teman bicara lewat “pintu yang dibanting keras”, “air mata yang mengalir dalam kesunyian”, “anak yang mengunci diri di kamar” dan sejenisnya... Inilah kiranya yang menjadi tanda-tanda dalam kehidupan kita yang harus kita dengarkan dan menggerakkan kita untuk menjawab tanda-tanda dengan sebuah sikap yang kasih yang nyata.